Akhir Pekan yang Magis di Wide Open Space Festival

Tiga hari yang sangat membahagiakan..

Tiga hari di mana gua bertemu dan bercengkrama dengan orang-orang yang unik..

Tiga hari yang sangat magis..

“Heey, where are you going? The festival is still on!” Ujar Anna ketika gua hendak pamit.

“And it’s still dark? The bonfire still there?” Kata gua sambil tersenyum.

Percakapan di atas terjadi di hari Senin, 2 Mei 2016. Sehari setelah Wide Open Space (WOS) Festival yang berlangsung dari 29 April sampai 1 Mei berakhir namun gua, Anna, dan mungkin semua orang yang datang ke WOS enggan untuk mengakhirinya.

Mimpi yang Menjadi Nyata

Sejak gua kenal dengan dunia pertunjukan musik di tahun 2006, waktu itu gua masih duduk di bangku SMP. Teman gua, Adink memperkenalkan gua dengan musik Punk! Dan mengajak gua untuk datang ke pertunjukan musik punk di Rossi Musik Fatmawati. Seingat gua waktu itu harga tiket masuk hanya dua ribu rupiah dan sejak saat itulah gua jadi gemar datang ke acara musik. Bahkan tak jarang gua datang sendiri dan mendapat pacar teman baru di acara musik, contohnya bisa lu baca di tulisan gua tentang band Alone At Last*. Lama kelamaan melalui internet gua jadi tahu kalau ternyata ada festival musik yang durasinya lebih dari satu hari! Ada yang dua, tiga bahkan sampai 7 hari! Dan gua pun memiliki mimpi untuk hadir ke festival-festival itu!

Dan mimpi itu pun menjadi nyata, ketika gua berkesempatan untuk tinggal di Australia.

Perjalanan darat 1500 KM!

Lokasi tempat tinggal gua sampai tulisan ini diterbitkan berada di Darwin dan festival yang ingin gua datangi berada di Alice Springs. Dua kota ini terpaut jarak 1500 KM! Berhubung gua memiliki mobil di sini (yup mobil hehe, tapi mobil jadul kok dan harganya muraaah banget, nanti di lain kesempatan gua akan bahas tentang ini) jadi gua memutuskan untuk roadtrip ke Alice Springs! Tidak sendirian tentunya, gua mencari orang-orang yang juga ingin datang ke WOS Festival dari Darwin. Nyarinya bijimane gan?? Mudah saja gan! Facebook! 🙂

28 Maret, berangkatlah gua bersama tiga orang lainnya ke Alice Springs. Perjalanan ke Alice Springs kita tempuh dalam waktu satu hari, berangkat jam 5 pagi dan sampai di Alice Springs sekitar jam 10 malam. Kondisi jalan yang mulus dan kebanyakan lurus membuat jarak sejauh itu bisa ditempuh dalam waktu satu hari.

Messin’ around on our way to Alice Springs. ?? #roadtrip #NTaustralia #wos16 #dance #dancing #straya #alicesprings

A video posted by hilal abu dzar (@jujursenja) on

Setelah mengantar dua orang wanita yang ikut nebeng ke tempat teman mereka, gua dan Jeremy memutuskan untuk kemah di sebuah lahan kosong yang dia tau bisa untuk kemah gratis lalu keesokan paginya kita pergi belanja untuk kebutuhan selama tiga hari dan kita juga sepakat untuk memberikan tumpangan bagi orang-orang yang sudah berada di Alice Springs dan ingin ke WOS. Hasilnya dua orang dapat dari facebook dan satu orang ketemu di jalanan.

Hestek bobo tampan

Hestek bobo tampan

 

“Hey guys, are you heading to WOS?” kata seorang pria di pinggir jalan.

“Yeah man” gua menjawab.

“Cool! can you give me a lift?” kata dia langsung ke inti pembicaraan.

“Sure! Why not?!” Jawab gua singkat, berangkatlah kita berlima menuju Ross River Resort di sanalah WOS Festival berlangsung.

suasana antrean masuk lokasi kemah

suasana antrean masuk lokasi kemah

The Festival itself

Tiba di lokasi festival, dua orang yang numpang dari Alice Springs memisahkan diri. gua, Jeremy dan Eileen (ini salah satu orang yang numpang dari Alice Springs dan ternyata saling kenal sama Jeremy haha) kita bertiga mencari teman-teman Jeremy dan bergabung dengan mereka. Ketika gua membuka tenda gua, di dalam hati gua berkata “yesss, inilah yang gua idam-idamkan sejak dulu”.

Festival dimulai sore hari, dibuka dengan beberapa sambutan dari beberapa orang penting yang terlibat dan pertunjukan singkat dari beberapa penampil. Atmosfir kebahagiaan pun mulai terasa. Yak akhir pekan yang tidak akan gua lupakan pun dimulai!

Bagaimana kesan kalian setelah lihat video di atas? keren kan festivalnya? seru banget kan?!! Nah ada satu momen yang sangat-sangat berkesan bagi gua dari festival ini, di hari Minggu hampir semua orang yang datang ke festival naik ke sebuah bukit dan di sana kita menikmati suasana matahari terbenam bersama-sama. Diiringi kelompok paduan suara yang menyanyikan lagu “Do you realize?”. Ahh, semakin syahdu saja senja dibuatnya.

 

Momen-Momen Yang Paling Berkesan Selama Festival

Ada beberapa hal yang paling berkesan selama festival, diantaranya adalah pertemuan gua dengan dua orang yang bisa dibilang sama dengan gua. Tidak minum alkohol ataupun mengkonsumsi narkoba namun kita masih sangat bisa untuk joget dan terlarut dalam alunan nada. Mereka adalah Anna dan satu wanita lagi yang gua lupa namanya, sebut saja Pelangi 🙂

Anna, seorang backpacker dari Jerman, gua pertama kali melihat Anna adalah ketika dia sedang bermeditasi di tengah kerumunan orang yang sedang joget! Terpincutlah hati abang dibuatnya saat itu juga. Hehe.

“Hey, i saw you meditating in the middle of the crowd last night! that was quirky! why did you do that?” kalimat pembuka gua ketika berkenalan dengan Anna di hari Sabtu pagi.

“Hi, yeah i found my peace in the middle of people” Anna menimpali sambil tersenyum ramah.

“Wow! That’s cool! by the way, i’m Hilal” kata gua.

“I’m Anna” jawabnya singkat, namun senyum ramahnya seakan membuat dunia berhenti berputar! #Tttsssaaddeesstt!!

Layak dikenang

Layak dikenang

Dan Pelangi berasal dari New Zealand.

“I bought one way ticket to Australia” kata Pelangi ketika gua nanya dari mana asal dia, kejenuhan hidup di New Zealand membawanya ke sini. Keren boy!!

Layak dikenang. Her smile is so gorgeous.

Layak dikenang. And look at her smile! So gorgeous!

Selain Anna dan Pelangi, momen berkesan lainnya adalah ketika gua ketemu dengan James. Dia lahir dan besar di Australia. Awal perkenalan gua dengan James adalah di Sabtu malam ketika gua sedang duduk dengan Anna, tiba-tiba doi nimbrung ngobrol bareng kita. Nah, keesokan paginya gua lihat dia membawa ukulele, langsung sajalah gua ajak main bareng.

“Hey James! you play ukulele?” pertanyaan retorik keluar dari mulut gua.

“Yeah mate, i do” jawab James.

“You know what? i also bring my ukulele, we should jam!” ajak gua.

“Sure! let’s do it!” James menimpali dengan antusias.

Jammin! @wos_fest #musicfestival #festival #wos16 #NTaustralia #discoveraustralia #ukulele #jamming

A video posted by hilal abu dzar (@jujursenja) on

Dan satu lagi momen yang paling berkesan adalah, sebuah labirin yang di dalamnya terdapat instalasi seni interaktif yang sukses membuat gua terkesima! Seperti apa instalasi seninya? cek video berikut ini…

Pulang ke Darwin

Itulah sedikit cerita yang bisa gua bagi mengenai pengalaman gua hadir di Wide Open Space Festival 2016. Berat rasanya berpisah dari orang-orang yang gua temui di festival ini. Senyum merekah menyelimuti wajah gua selama perjalanan pulang, akhirnya gua bisa mencoret salah satu nomor dari bucket list gua!

Oh ya, perjalanan pulang ke Darwin gua tidak sendirian. Jeremy dan Eileen kembali ikut, serta ada satu teman mereka yang bernama Matt juga ikut. Jadi ada empat orang, perjalanannya berlangsung selama dua hari  dan cukup santai bahkan sempat mampir ke Mataranka thermal pools.

Hilal abu dzar Mataranka thermal pool

Akhirnya kena air setelah dua hari terakhir tidak mandi hahaha…

And instead of saying all of your goodbyes – let them know
You realize that life goes fast
It’s hard to make the good things last
You realize the sun doesn’t go down
It’s just an illusion caused by the world spinning round

 

Senja tersyahdu

Senja tersyahdu

Baca juga nih guys pengalaman keren blogger lainnya selama mereka di Australia!

Comments

What do you think?

Hilal Abu Dzar

Social Media, Movie and Music enthusiast from Jakarta, Indonesia.

4 Comments

  1. asli gue suka banget sama foto yg terakhir lal,

    seru banget cerita roadtrip lo, ini bukan barengan Ririn ya? kmrn kayaknya lihat dia ke Alice Spring juga

    Gue dr dulu penasaran sama acara Jazz yang di Bromo, tapi ga pernah pergi hahahaha

    • Thanks Meidiana! hehe
      it was magical hehe, sampai sekarang kalau ingat festival ini pasti gua senyum-senyum sendiri. Enggak bareng Ririn ini gua, beda bulan hehe.
      Jazz Bromo kapan? yuk kesana yuukkk!

Leave a Reply