Bersama pak Nabawi

Hari Pertama

Kalau gua ajak lu ke Madura, kira-kira lu mau nggak? Iya, lu yang lagi baca tulisan ini. Gimana? Mau nggak? Atau lu akan mengernyitkan dahi dan bilang “Ngapain ke Madura? Emang ada apaan di sana?” seperti orang-orang yang gua temui di perjalanan dari Yogyakarta menuju Madura. Beberapa dari mereka menceritakan pengalaman mereka yang tidak mengenakkan ketika bertemu orang Madura. Bahkan orang-orang yang lahir dan besar di Madura pun heran sama rencana gua waktu itu.

Nah, di penghujung Mei 2017 gua akhirnya bisa menginjakkan kaki di tanah Madura. Setelah sebelumnya stuck di Yogyakarta dan menikmatinya hahaha…

Waktu itu hari sudah sore saat gua menyebrangi jembatan Suramadu. Hanya butuh sekitar 20 menit untuk menyebrangi jembatan sepanjang 5,4 kilometer ini. Sesampainya di Madura gua langsung tancap gas ke Bangkalan. Kota ini berjarak sekitar 20 kilometer dari jembatan Suramadu. “Nanti saran saya bermalam di Bangkalan aja mas dan jangan keluar dari kota malem-malem ya, masih rawan soalnya,” kata salah satu orang Madura yang gua temui di Surabaya. Seperti kota-kota kecil lainnya, Bangkalan sore itu sepi. Tak ada macet seperti di Surabaya, Tak ada pusat perbelanjaan mewah yang acap menyiptakan tekanan sosyel. Yang banyak menghiasi jalan-jalan di Bangkalan adalah UMKM. It’s kinda cool sih kalau menurut gua.

Tujuan utama gua sore itu adalah mencari titik terbaik untuk melihat matahari terbenam, karena sore itu cuaca cerah dan matahari sedang cantik-cantiknya. Setelah nyetir ke arah barat sambil ngikutin matahari selama 20 menit sampailah gua ke sebuah gudang yang terletak di pinggir laut. Gua pun langsung memberanikan diri nanya ke pak satpam, boleh nggak masuk ke belakang gudang. Ternyata nggak dibolehin sama doi, tapi doi berbaik hati dan ngasih tahu bahwa di samping gudang ada jalanan kecil yang berakhir di bibir laut “Di sana aja mas, bagus juga kok di sana,” kata bapaknya. Okelah tanpa banyak basa-basi gua langsung bilang makasih dan meluncur ke jalanan yang dimaksud. Nggak nyampe dua menit, sampailah gua ke spot kecil dan memang  benar apa yang di bilang bapak berseragam putih tadi, matahari terlihat jelas dan indah dari situ. Kalau nggak percaya, lihat aja foto di bawah ini.


Misi pertama sudah selesai, hari sudah gelap dan perut gua mulai lapar. Jadilah misi selanjutnya mencari warung nasi lalu mencari tempat untuk tidur gratis atau mendirikan tenda.

Pinggiran kota Bangkalan malam itu gelap sekali, nggak banyak lampu penerang jalan di sana. Jujur aja gua agak was-was malam itu. Kalau ada cahaya kendaraan mendekat, fikiran-fikiran negatif langsung datang. Gua harus kerja ekstra untuk mengusir mereka. Setelah 15 menit yang terasa sangat lama akhirnya gua nyampe di kota Bangkalan lagi, gua berhenti di dekat Pesarean Masjid Syaichona Moch. Cholil Martajasah Bangkalan. Tepatnya di sebuah warung kecil yang memajang makanannya seperti di rumah makan padang Sederhana, namun dalam versi yang benar-benar sederhana. Hanya ada dua meja berkukuran satu setengah meter, dua bangku, dan satu balai bambu.

“Bu, nasi ya pakai telur sama sayur,” kata gua sambil meletakan tas dan membuka jaket.

“Iya Mas, tunggu sebentar ya,” kata pemilik warung nasi sambil seloyor pergi ke dapur untuk menggoreng telur.

Selain gua dan pemilik warung, hanya ada dua orang lain di situ. Yang satu adalah suami si pemilik warung dan yang satu lagi adalah orang yang menyebabkan gua membuat tulisan ini. Orang itu belakangan gua tahu bernama pak Nabawi. Berkumis tebal memakai sarung, kaos putih polos, dan jaket loreng. Tangan kirinya asyik memainkan rokok, sambil sesekali menyeruput kopi hitam. Badannya agak gemuk, subur he..he..

Nggak butuh waktu lama bagi pemilik warung untuk membuat pesanan gua. Sambil makan, gua pun membuka pembicaraan dengan pak Nabawi. Standar lah.. basa-basi nawarin makanan he..he..

“Makan Pak,”kata gua.

“Oh iya, silakan Mas,” jawab pak Nabawi. “Dari mana Mas?”

“Kalau aslinya sih dari Jakarta pak, tapi ini saya motoran dari Jogja,” kata gua sambil makan nasi telur yang enak banget ternyata, atau mungkin karena lapar banget ya.

“Jogja? Naik motor? Dalam rangka apa kamu?” pak Nabawi keheranan.

“Main aja pak, mau lihat Madura,”jawab gua santai.

“Anak muda, hebat kamu. Saya juga dulu kaya Kamu…” dan pak Nabawi dengan antusias menceritakan pengalamannya sewaktu muda. Berpolitik (sampai sekarang) dan juga berkelana.

“Oh iya nama Kamu siapa? Hampir lupa Saya,” ujar pak Nabawi selesai bercerita tentang masa mudanya.

“Hilal pak,” jawab gua singkat. “Kalau bapak?”

“Saya Nabawi, Lal. Terus mau berapa lama kamu di Madura?” pak Nabawi menimpali.

“Paling sekitar satu minggu Pak. Maunya sih muterin pulau Madura,” kata gua.

“Berarti dari sini ke arah Sumenep?” kata pak Nabawi penasaran.

“Iya pak, rencananya begitu,” kata gua.

“Wah hebat kamu Lal. Nanti kalau lebaran masih di Madura, mampir ke tempat saya ya?” kata pak Nabawi dengan antusias.

“Siap Pak! Ngomong-ngomong di sini kalau mau nyari tempat untuk tidur gratis di mana ya pak?” tanya gua.

“Oh itu Lal kamu ke pesarean aja,” kata pak Nabawi sambil menunjuk ke arah bangunan besar di belakang gua. “Bilang aja sama satpamnya kalau kamu musafir dan mau numpang bermalam. Pasti dibolehin kok.”

“Oh gitu ya pak, saya bawa tenda juga sih. Tapi bingung mau masang di mana,” kata gua. Ide pak Nabawi bagus juga sih, Pesarean tersebut cukup ramai malam itu. Mungkin akan berisik, tapi nggak apa-apa lah ya. Namanya juga gratis he..he..

“Udah di situ aja Lal, aman jugaan di situ” kata pak Nabawi “atau mau nginep di tempat saya?”

jreng..jreng..!

Kaget lah gua mendengar tawaran pak Nabawi. Di sisi lain gua senang sih sebenarnya, karena memang gua ingin merasakan tinggal di rumah warga lokal. Bahkan itu adalah salah satu tujuan gua. Yang bikin gua kaget adalah, gua nggak nyangka akan dapat tawaran itu di hari pertama! Tanpa banyak cing-cong langsung gua iyakan tawaran itu. Pak Nabawi dengan senyumnya yang sumringah langsung bilang “Yaudah tunggu dulu ya Lal, Saya nungguin anak Saya nih,” rupanya yang membuat pak Nabawi nongkrong di warung malam itu adalah motornya yang mogok. Tak lama menunggu, akhirnya dua anak pak Nabawi datang. Salah satu anaknya turun dari motor dan dengan sigap menaiki motor pak Nabawi sedangkan anak yang satunya mendorong dari belakang, dengan cara menempelkan kaki kirinya pada knalpot motor di depan. Perjalanan ke rumah pak Nabawi sendiri memakan waktu sekitar 20 menit, jalanan yang cukup sempit dan gelap cukup menghambat kami. “Tapi rumah Saya kecil Lal, seadanya ya,” kata pak Nabawi merendah. Sesampainya di rumah pak Nabawi-yang ternyata tidak kecil-gua langsung diperkenalkan ke seluruh anggota keluarga. Satu istri, satu adik perempuan, tiga putra dan satu putri. Ada tiga bangunan di rumah pak Nabawi, termasuk mushala yang bisa menampung 20 orang dan pekarangan yang lumayan luas untuk bermain badminton.  “Nanti pas ramadhan, Orang sekitar rumah shalat tarawi di sini Lal,” kata pak Nabawi sambil menyalakan lampu mushala.

Oh ya, di rumah pak nabawi masih menggunakan sumur timba. Klasik 🙂

Setelah mandi, pak Nabawi sudah nunggu gua di ruang keluarga. Di situ juga sudah ada kopi, makanan ringan, dan juga bantal. “Tidur di sini aja ya Lal, di kamar panas soalnya. Tenang aja saya bakal nemenin kamu,” kata pak Nabawi. Gua hanya menangguk dan langsung gesit menyeruput kopi sembari melihat baik-baik sekeliling ruang keluarga yang menurut gua homey banget. Dari bentuk dan desainnya, jelas banget kalau rumah pak Nabawi minimal berumur dua puluh tahun. Di tahun 2017 televisi pak Nabawi masih belum kurus. Ada foto-foto pak Nabawi semasa muda di dinding serta kalender pemberian toko emas.

Layaknya orang yang sedang bertamu, kami mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari yang standar seperti saat pak Nabawi bertanya tentang keluarga gua sampai hal-hal yang menarik seperti situasi politik di pulau Madura. Oh ya, ada satu pertanyaan yang sangat gua kenang waktu itu. Pertanyaan yang membuat gua tertawa terbahak-bahak.

“Lal, Saya mau tanya sama Kamu. Jawab jujur ya Lal,” pak nabawi memasang muka serius “Sebenarnya tujuan kamu ke Madura ini apa? Apa cari ilmu kah? Siapa sebenarnya guru Kamu?”.

Gua bengong lalu ketawa mendengar pertanyaan pak Nabawi. Dan gua jelaskan lagi ke pak Nabawi kalau tujuan gua ke Madura ya untuk berinteraksi dengan orang Madura, melihat Madura. Bukan untuk mencari ilmu, oh ya maksud dari mencari ilmu di sini adalah ilmu kebatinan ya kawan-kawan. IPG alias ilmu pengetahuan gaib. He..he..

Pertanyaan pak Nabawi bukannya tanpa alasan sih. Karena hampir di semua daerah-daerah yang gua kunjungi termasuk Madura dan juga di daerah-daerah yang akan gua kunjungi setelah Madura ada banyak tempat-tempat untuk berziarah atau bertapa guna mencari IPG.

Sekitar pukul 11 malam, gua pamit untuk tidur. Pak Nabawi lalu membakar obat nyamuk, mematikan lampu dan ikut tidur juga. Tak lupa doi mengecup keningku.

Hari kedua

Pagi itu, setelah melaksanakan rutinitas seperti ibadah, sarapan, dan mandi. Pak Nabawi ngajak gua untuk ikut ke tambak miliknya, “Ayo ikut saya Lal, ngantar bekal untuk yang kerja di tambak,” hanya butuh jalan kaki sekitar 5 menit untuk sampai ke tambak ini. Kami menyusuri petakan-petakan sawah milik pak Nabawi dan dan juga tetangganya. Sesekali pak Nabawi menyapa tetangganya yang sedang menggarap sawah dalam bahasa Madura, yang menurut gua unik. Kenapa unik? Menurut gua ya.. Karena pulau yang secara administratif masih masuk provinsi Jawa Timur ini memiliki bahasa tersendiri, yaitu bahasa Madura. Pelafalan bahasa Madura pun unik, begitu uniknya pak Nabawi sempat bilang ke gua kalau dia kenal seorang pendatang yang sudah tinggal di Madura selama 15 tahun namun bahasa Maduranya belum fasih. Nggak percaya? Simak penjelasan ini deh. Oh ya, bahasa madura juga mengenal tingkatan-tingkatan layaknya bahasa jawa. Contohnya:

Enje’ – iya (sama dengan ngoko)

  • ‘Èngghi-Enten (sama dengan Madya)
  • Èngghi-Bhunten (sama dengan Krama)”

Sesampainya di tambak, pak Nabawi langsung merokok dan asyik ngobrol dengan karyawannya. Gua nggak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi kayaknya sih seputar tambak. Soalnya pak Nabawi sesekali nunjuk ke arah tambak. 30 menit berlalu, kaki gua sudah keok diserang nyamuk dan akhirnya pak Nabawi pamit ke karyawannya seraya memberikan bekal. Di perjalanan menuju rumah, pak Nabawi cerita kalau tambaknya sudah lama nggak ada yang ngurus karena dia kesulitan nyari karyawan yang jujur dan dia juga cerita betapa beruntungnya dia punya karyawan yang sekarang. “Nah sekarang ikut saya ke sekolah anak saya yuk Lal,” ujar pak Nabawi sesampainya di rumah. Kata pak Nabawi, dia dipanggil oleh kepala sekolah. Atas alasan privasi, gua nggak bisa cerita bagian ini.

Malam harinya, pak Nabawi ngajak gua ke rumah temannya yang berada di pusat kota Bangkalan. Sekitar pukul 8 malam kami jalan. Tapi, nggak langsung ke rumah temannya. Pak Nabawi ternyata mau mampir dulu ke rumah karyawannya. “Ya, belok kiri di sini Lal,” kata pak Nabawi. Gua bingung saat itu, karena keadaan sekitar gelap banget dan sumber cahaya hanya dari lampu motor gua. Setelah beberapa saat barulah lampu motor gua menyorot sebuah bangunan sederhana yang terbuat dari kayu. Sederhana sekali rumah karyawannya pak Nabawi. Kalau dingat-ingat lagi sekarang, gua jadi ngerasa malu kalau terkadang masih mengeluh karena sinyal internet yang nggak stabil saat main mobile legend. Oh tuhan, peliharalah semangat baik bapak ini.

Kita sebut saja bapak ini pak Panji yang mampu mengatasi segala tantangan ya. Mohon maaf gua lupa nama beliau. Pak Panji sudah punya anak, dua kalau tidak salah. Beliau pernah merantau ke Jakarta sewaktu muda, namun memutuskan kembali ke Madura karena tidak betah. Keadaan pak Panji dan keluarga yang sederhana tak menghalangi beliau untuk menjamu tamu-tamunya. Kopi hangat menjadi teman kami malam itu. Terpujilah orang-orang yang memuliakan tamunya. Dan seperti keadaan di pagi hari, gua kembali tidak memahami isi obrolan mereka. Yang gua lakukan malam itu hanyalah minum kopi dan sesekali nyengir.  

Lumayan lama juga waktu itu kami mampir di rumah pak Panji. Setelah menghabiskan kopi di gelas, kami pun pamit melanjutkan perjalanan. Menembus kegelapan-secara harfiah-menuju pusat kota Bangkalan. Sesampainya di rumah teman pak Nabawi, kami disambut dengan hangat. Ngopi lagi kita di teras rumah 🙂

Ada empat bapak-bapak bersarung termasuk pak Nabawi malam itu, yang masih gua ingat sampai sekarang hanyalah tuan rumah, badannya gemuk. Berkaus putih polos dan mengenakan sarung seperti ketiga bapak-bapak lainnya. “Kenal di mana kamu sama Dul Kawi?” kata tuan rumah sambil memainkan rokok kretek di tangan kanannya. Setelah mengulik tentang gua, fokus mereka berganti ke televisi pintar yang sedari tadi sudah ada di teras. Televisi pintar ini terkoneksi ke YouTube. Lalu kami pun tenggelam dalam video-video milik reza arap, VNGNC, Rando, agung hapsah, kittendust seorang penceramah yang fundamentalis, gua lupa nama penceramah ini yang jelas beliau sangat berapi-api dan pandai mengolah kata. Saking berapi-apinya, gua memutuskan untuk rebahan dan tidur 😀 Habisnya gua bingung mau ngapain, mau ikutan komentar juga nggak bisa. Pak Nabawi a.k.a Dul Kawi dan teman-temannya ngomong pakai bahasa Madura. Roaming bos..!  

Mungkin nggak banyak yang bisa gua cerita di bagian ini, tapi yang jelas gua yakin kalau malam itu pak Nabawi memiliki quality time dengan kawan-kawan nya. Semua kompak sarungan, mabar mobile legend nge-YouTube sembari ngopi dan ngerokok. Kami pulang cukup larut, mungkin sekitar jam 1 pagi baru sampai di rumah pak Nabawi.

Pagi Terakhir di Rumah pak Nabawi

kami bangun agak siang. Sedikit… dan untuk terakhir kalinya gua nimba air untuk mandi dan buang air. Gua udah cerita belum sih kalau di rumah pak Nabawi ada dua kamar mandi? Well, yang satu adalah sumur timba yang pintunya adalah sehelai sarung. Dan yang satunya adalah toilet, dengan lantai keramik dan berpintu “normal”. Tapi, tidak ada sumber air di toilet. Jadi, kalau mau buang hajat harus nimba air dulu. Dan yang terpenting adalah kita harus mengalkulasi butuh air sebanyak apa. Nggak kebayang kan kalau kehabisan air pas lagi anu? Belum cebok pula. He..he..he..

Setelah ritual pagi, kami sarapan dan pak Nabawi menyampaikan sebuah wejangan yang menurut gua gokil. “Hiasilah dirimu hingga menjadi cowok cakep, tapi jangan lupa menghiasi moralmu,” kata pak Nabawi sambil menikmati telur dadar dan nasi yang masih hangat. Setelah sarapan, pak Nabawi pamit duluan untuk pergi ke tambak.

Sebelum pergi, gua ajak pak Nabawi untuk foto bareng dulu. Buat kenang-kenangan kata gua. Gua suruh lah pak Nabawi untuk duduk di teras mushala.

“Lho Pak, ngapain giginya ditutupin?” kata gua sembari nyengir.

“Ini Saya nutupin lobang Lal, malu mau difoto sama Kamu,” pak Nabawi berseloroh. .
“Ha..ha..ha.. Yaudah Saya ikutan,” gua langsung gesit nutupin gigi yang patah gegara nabrak pintu Indomaret.

Setelah foto, pak Nabawi langsung ke tambak. Dan gua mengemas barang-barang yang gua bawa. Lalu pamit kepada Istri dan anak-anak pak Nabawi serta adik pak Nabawi. Tak lupa, gua pun mengajak mereka foto bersama. Dan mengucapkan beribu terima kasih.

Saat meninggalkan rumah pak Nabawi, gua nggak nyangka kalau awal dari perjalanan gua di Madura meninggalkan kesan yang sangat mendalam.

 Bersama anggota keluarga pak Nabawi

Saat Idul fitri kemarin, gua mencoba menghubungi pak Nabawi, namun sayangnya nomer doi nggak aktif.

Untuk Pak Nabawi, semoga suatu saat saya ke Madura lagi dan main ke rumah Bapak!

Madura isn’t that bad is NOT bad at all!

Catatan sikil: Sebelum tulisan ini gua unggah, gua sempat meminta seorang teman yang pekerjaan sehari-harinya adalah editor untuk membaca. Salah satu komenar dia terhadap tulisan gua adalah dia merasa belum mendapat apa-apa setelah membaca tulisan ini. Kata dia “Oke pak Nabawi baik, tapi njuk ngopo?”. Apakah kalian merasakan hal yang sama?  Kalau iya, maka inilah jawaban gua. Dalam tulisan ini gua ingin menunjukan bahwa orang baik itu ada di mana-mana. Jangan gampang mempercayai sebuah stereotipe. Memang sih gua hanya menghabiskan waktu satu minggu di Madura, tapi ini sudah cukup untuk meyakinkan diri gua kalau mempercayai sebuah stereotipe berarti merendahkan manusia.  Terdengar naif? Mungkin, iya. Tapi itulah pandangan gua.

Comments

One Reply to “Dah Jakarta: Catatan dari Madura”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *