Sapa Suruh Datang Australia

hari terakhir di tempat kerja di Australia

hari terakhir gua dan satu orang kolega di tempat kerja

“Balik lagi nggak ke Australia?”

Sering banget nih gua akhir-akhir ini dapat pertanyaan di atas. Secara baru kemarin perjalanan gua di Australia berakhir. Dan gua sekarang kembali ke Jakarta melepas rindu akan mantan keluarga dan teman-teman baik. Dan jawaban gua sih sebenarnya selalu sama menghadapi pertanyaan di atas, iya gua mungkin kembali tapi hanya untuk jalan-jalan aja soalnya kan setahun gua di Australia hanya gua habiskan di Darwin. Waktu itu baru sempat roadtrip ke festival musik doang di dekat Alice Springs dan gua ingin banget untuk pergi ke tempat-tempat lainnya di Australia.

Nah kalau ditanya apakah gua ingin menetap di Australia atau tidak? Bagi gua sih ya kenapa enggak :) Tapi ya gua inginnya kalau menetap di sini, kerja di bidang yang sama seperti waktu di jakarta yaitu media sosial. Dan untuk mencapai hal itu tidak mustahil sebenarnya tetapi tidak mudah juga.

Hanya butuh berkendara selama 20 menit untuk melihat pemandangan ini di Darwin. Siapa coba yang enggak tergoda?

A photo posted by hilal abu dzar (@jujursenja) on

Cukup berkendara 20 menit untuk melihat pemandangan seperti di atas di Darwin. Siapa coba yang enggak tergoda?

Dan berikut adalah beberapa hal yang sempat terbesit di fikiran gua mengenai langkah-langkah menetap di Australia

  • Kuliah lagi
    • Gua ketemu beberapa orang Indonesia yang sudah menetap di Darwin yang mengawali langkahnya dengan cara berkuliah di sini dan gua salut sama mereka, termasuk dengan orang-orang yang saat ini sedang kuliah di sini agar bisa mendapatkan status permanent resident (PR). Gua salut sama mereka karena jalur ini tidak bisa dikatakan mudah, biaya kuliah di Australia untuk mahasiswa internasional itu selangit :( Dan lu harus pintar mengatur waktu agar seimbang antara kuliah dan kerja untuk membiayai kuliah dan juga mencari Tinderella. Dan gua sampai saat ini belum mau menempuh jalur ini, jurusan kuliah yang gua inginkan memakan biaya 18 ribu dollar australia pertahun bookk!!! Di Indonesia dengan uang segitu gua bisa kuliah sampai 4 tahun di universitas bergengsi.
  • Jalur Sponsor atau Tenaga Ahli
    • Ada juga gua lihat orang indonesia yang menetap di sini karena awalnya disponsori oleh perusahaan Australia, nah kalau dengan jalur ini lu harus ahli dalam sebuah bidang. Karena, kalau lu sampai disponsori untuk kerja di sebuah perusahaan di Australia itu kan berarti perusahaan tersebut kesulitan mencari tenaga kerja di pasar lokal. Nah kalau lewat jalur ini, pengalaman gua belum mumpuni di bidang media sosial.
  • Menggaet Warga Australia
    • Yang ini udah jelas lah ya. Kalau punya pasangan warga negara Australia, lu bisa menetap di sini. Tapi ada prosedur yang harus dilalui juga. Kalau gua jangankan punya pasangan, Tinder aja enggak ada yang match :(

 

Jadi, kesibukan gua saat ini adalah menjalankan rencana-rencana yang ingin gua lakukan di Indonesia. (Nope, kidding.. i have no plan bhahaaha!!)

 

Baca juga nih tulisan teman gua dengan tema yang sama:

 

 

Comments

What do you think?

Hilal Abu Dzar

Social Media, Movie and Music enthusiast from Jakarta, Indonesia.

2 Comments

    • Heheh, I’m sorry that my article is written in Indonesian and I’m using too many informal/slang word.

      No, that was a farewell cake for me and my work mate Lisa.

Leave a Reply