Dadah Australia dan Selamat Datang Babak Berikutnya

Darwin, Australia

hari terakhir di Darwin

hari itu adalah hari terakhir gua di darwin, ini artinya gua akan kembali cebok pakai tangan setelah satu tahun hanya menggunakan tisu. Dan gua akan berhenti merasa insecure setiap ke toilet cowok karena urinoirnya ga menggunakan pembatas, jadi sangat mudah kalau lau mau membandingkan siapa yang memiliki ‘rudal’ lebih besar, lau atau mas-mas di sebelah. Dan ini  juga berarti gua akan kembali merasakan lalu lintas Jakarta yang susah ditebak (kaya sikap kamu), tapi tidak apa-apa karena kembali ke Jakarta berarti gua bisa berkumpul dengan keluarga, bisa makan nasi goreng di pinggir jalan sembari gak peduli di nasinya ada batu kecil atau rambut abangnya, diklaksonin ketika berada di lampu merah yang baru aja berubah jadi hijau sama pengendara di belakang. Gila, gua enggak percaya akan bilang ini tapi gua benar-benar kangen Jakarta!

Masih terbayang dengan jelas hari-hari terakhir gua di Darwin, setelah berhenti dari pekerjaan gua sebagai housekeeper gua masih memiliki waktu satu minggu di kota kecil nan sunyi ini. Hal pertama yang gua lakukan saat itu adalah menjual mobil yang udah menemani gua selama delapan bulan terakhir. Iya mobil 🙂 Kalian enggak salah baca kok, punya mobil di Australia adalah hal yang sangat biasa dan harga mobil di sana itu murah. Mobil yang gua punya harganya hanya 1800 dollar Australia atau sekitar 18 juta rupiah. kebayang gak sih dengan uang segitu udah bisa beli mobil dengan kondisi layak jalan? 🙂 Makanya ayo pada ke Australia biar bisa nyobain beli mobil secara kontan hehehehe..

Satu tahun di Australia adalah hal yang luar biasa bagi gua dan merupakan salah satu babak paling penting dalam hidup gua. Banyak pelajaran hidup yang gua dapatkan di sana, inilah kenapa gua sangat merekomendasikan setiap anak muda yang gua temui untuk pergi ke Australia menggunakan work and holiday visa (WHV).

Kembali ke hari terakhir gua di Darwin, Australia. Waktu itu langit sudah mulai gelap, sekali lagi gua memeriksa kamar gua sekadar memastikan semua barang sudah masuk ke tas, adalah sebuah pencapaian bagi gua berangkat ke Australia dengan membawa barang bawaan seberat 11 kilogram dan beban itu hanya bertambah 4 kilogram ketika gua kembali ke Indonesia. “We are outside” sebuah pesan singkat dari Stephanie, teman baik gua di Darwin membuat gua bergegas turun. Hari ini Stephanie bersama keluarganya akan mengantarkan gua ke bandara.  “this is it” kata gua dalam hati ketika mobil mulai melaju menuju bandara, ditemani indahnya langit Darwin di kala senja. Jika suatu saat gua kembali ke Darwin, percayalah keindahan senjanya adalah salah satu penyebabnya. Sesampainya di bandara, masih ada waktu sekitar 20 menit sebelum gua harus memulai proses boarding. Gua keluarkan ukulele gua dan sekali lagi memainkannya untuk mereka, perasaan gua bercampur aduk, antara sedih dan senang. Saat Stephanie nanya apa yang akan gua lakukan di Jakarta gua cuma bisa jawab kalau gua enggak tahu, yang pasti main bersama adik gua adalah agenda utama di hari pertama. Tak terasa 20 menit sudah berlalu dan gua pamit kepada mereka, sebuah pelukan terakhir dari Stephanie sekeluarga mengantarkan gua pergi meninggalkan Darwin, ketika akan memasuki pesawat beberapa penumpang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka karena dalam waktu kurang dari tiga jam kami semua akan tiba di Bali. Apalagi, bagi warga Darwin, Bali adalah ‘pantai’ nya mereka, kenapa begitu? karena di pantai-pantai yang ada di Darwin tidak direkomendasikan untuk renang, ada potensi buaya air asin akan muncul hahaha.. Jadi warga Darwin kalau mau berenang di pantai harus ke Bali dulu.

Malam pertama di Indonesia

Ketika keluar dari terminal kedatangan bandara I Gusti Ngurah Rai gua langsung senyum-senyum sendiri, “Taksi? Taksi?” beberapa orang berdatangan ke arah gua menawarkan jasa taksi. Kenapa gua senyum-senyum sendiri? Jujur aja karena gua kangen akan ‘kekacauan’ ini, selama satu tahun di Darwin gua ga pernah ngerasain peristiwa kayak gini hehehe.. Oh ya, saat itu gua enggak langsung ke Jakarta karena ada risiko pesawat dari Darwin ke Bali telat–dan emang benar telat–dan itu menyebabkan gua ketinggalan pesawat ke Jakarta. Jadinya gua memutuskan untuk bermalam di Bali, setelah melakukan negosiasi yang cukup alot dengan supir taksi di bandara karena doi enggak mau menggunakan argo. KZL!

Berangkatlah gua ke hotel untuk meletakan barang-barang dan melanjutkan perjalanan ke sebuah cafe untuk bertemu teman gua yang bernama Miyoko, temu kangen dan sekalian nukerin uang. Pas banget dia mau ke Australia  dan butuh dollar, alasan lain bagi gua adalah karena kurs di bandara sangat menyedihkan 🙁 Pertemuan gua dengan Miyoko berlangsung cukup singkat, tapi dia banyak memberikan saran mengenai langkah-langkah awal yang mesti gua lakukan setelah kembali dari Australia di antaranya adalah bagaimana caranya menukarkan uang dan mendapatkan kurs terbaik. Saran dari dia waktu itu adalah dengan membuka rekening dollar di bank CIMB Niaga, karena katanya nilai tukar di bank ini berubah kapan saja jadi sangat mungkin untuk mendapatkan kurs terbaik. Dan dia juga mengingatkan gua agar tidak lupa mengklaim ‘uang pensiun’ dari hasil kerja di Australia. “Apa?? Uang pensiun Lal??” Ett.. Selow bosque, ga usah kaget gitu bacanya :p

Jadi di Australia itu ada peraturan yang mewajibkan setiap perusahaan untuk memberikan uang pensiun kepada setiap karyawannya, besaran uang pensiun ini adalah 9,5% dari gaji. Peraturan ini juga berlaku bagi orang-orang yang bekerja di Australia menggunakan visa berlibur dan bekerja atau WHV. Nah nanti uang pensiun ini bisa kita klaim setelah kita meninggalkan Australia, walaupun harus dipotong pajak sebesar 35% sih hehe.. Yaa lumayan laah hitung-hitung bonus 😉 Oh ya kata seorang teman, per Juli 2017 nanti pajak ini akan ditingkatkan jadi 65%. Menurut gua tetap lumayan laah, bonus!! hehe

“Sampai ketemu lagi my friend!” kata gua kepada Miyoko mengakhiri pertemuan singkat itu, gua pun melanjutkan malam itu dengan mencari makan karena sejak sore perut ini belum terisi apapun. Mampirlah gua ke sebuah restoran yang menjadikan pizza sebagai menu andalannya. Dan sekali lagi gua senyum-senyum sendiri, kali ini adalah ketika melihat daftar menu, karena saat itu menurut gua harga makanannya murah banget! Sebenarnya sih enggak, hahaha..

Hal ini terjadi karena gua mulai membandingkan harga makanan di Indonesia dengan harga makanan di Australia. Di Darwin kalau makan di restoran setidaknya gua harus mengeluarkan uang 15 dollar atau sekitar 150 ribu rupiah. Sedangkan di Bali gua hanya perlu bayar 60 ribu untuk makan waktu itu, gua pun bergumam “ebuseh cuma 6 dollar, pantesan teman kerja gua di Darwin ke Bali sebulan sekali”. Nanti ketika awal kalian ke Australia, kalian akan kaget karena merasa bahwa harga barang-barang di Australia itu mahal, karena semua harga akan kalian konversi ke rupiah. Contohnya untuk makan gado-gado di darwin aja harus bayar 12 dollar atau 120 ribu rupiah. Tapi itu semua akan berubah ketika kalian sudah mendapatkan kerja dengan bayaran perjam. Dan ketika awal kembali ke Indonesia kalian akan merasa bahwa harga barang-barang di Indonesia itu murah, tapi itu semua akan berubah ketika sisa tabungan dollar mulai menipis :p

Gua menghabiskan sisa malam di bali dengan duduk di pinggiran pantai Kuta, airnya enggak kelihatan sama sekali namun suara ombak waktu itu sangat syahdu menurut gua..

Ke Jakarta Aku Kan Kembali…

Keesokan harinya gua dengan penuh semangat meninggalkan hotel menuju bandara, ada satu momen di bandara yang harus gua tulis di sini. Saat itu gua merasa kalau momen yang gua saksikan ini cukup magis. Di ruang tunggu bandara, gua melihat seorang pria yang sedang mengaji. Ini adalah momen yang enggak pernah gua temukan di Australia, orang mengaji di ruang publik. Gua duduk satu baris di belakang orang itu, ketika dia selesai mengaji gua langsung duduk di sebelahnya.

“Boleh saya duduk di sini pak? Saya Hilal” kata gua membuka pembicaraan.

“Silakan mas. Saya Irnal” dengan singkat dan ramah pria berkaca mata itu menjawab.

“Saya dari tadi memperhatikan pak Irnal, saya baru aja menghabiskan waktu satu tahun di Australia. Entah kenapa melihat bapak mengaji di tempat umum membuat saya tersenyum bahagia. di Darwin saya enggak pernah melihat momen ini” Kata gua kepada pak Irnal, tanpa banyak basa-basi.

Lalu kami larut dalam pembicaraan mengenai banyak hal, mulai dari kegiatan sehari-hari pak Irnal yang menurut gua sangat sangat keren hingga hal-hal kecil seperti apakah rambut gua asli atau tidak hehe.. Sampai akhirnya pembicaraan itu harus terhenti karena kami harus segera masuk ke dalam pesawat.

 Hello Jakarta, it’s been a while ayy..

Lampu tanda mengenakan sabuk pengaman kembali menyala, itu berarti pesawat akan segera tiba di bandara Soekarno Hatta (Soeta) Tangerang. Terdengar suara seorang awak kabin mengucapkan terima kasih dan memohon maaf apabila ada ketidaknyamanan selama penerbangan, seraya berpesan “jangan lupa kasih bintang lima ya pak” kepada penumpang. Lah.. Ini Pesawat apa Gojek? 😀

Ditemani lagu Monokrom dari Tulus, gua menyusuri besarnya Bandara dengan sangat bahagia. Senyum merekah muncul di wajah gua, mata mulai berkaca-kaca. Hello Jakarta, it’s been a while!!

Seperti ketika baru tiba di bandara I Gusti Ngurah Rai, gua langsung mencari taksi. tidak butuh waktu lama untuk mencari taksi di bandara Soeta apalagi taksi yang gua pilih bukan taksi ‘putih’ dan ‘biru’. Sepanjang perjalanan menuju rumah, gua aktif menanyakan berbagai pertanyaan seputar Jakarta kepada pak supir. Karena gua yakin beliau yang sehari-hari berada di jalanan Jakarta tahu betul apa saja yang terjadi dengan kota ini selama satu tahun terakhir. Dari beliau gua tahu bahwa ada beberapa pusat perbelanjaan baru di Jakarta bahkan satu diantaranya ada di dekat rumah gua! Haha! Jakarta ay lop yu pul! Hal lain yang kami perbincangkan adalah isu mengenai layanan taksi online di Jakarta. Apalagi belum lama dari waktu itu terjadi sebuah demonstrasi mengenai taksi online yang berujung ricuh. Gua tetap menyayangkan peristiwa itu terjadi tapi obrolan dengan pak supir memberikan perspektif baru bagi gua dalam melihat hal ini.

Bagi gua sendiri, enggak banyak perubahan jakarta yang gua lihat sepanjang perjalanan menuju rumah. Satu hal yang jelas terlihat adalah makin banyak pengendara motor yang menggunakan jaket hijau hehehe.. Dan hal pertama yang gua kangenin dari Darwin adalah keadaan lalu lintas di sana, karena selama di Darwin gua enggak pernah merasakan macet. Wajar sih karena kota itu hanya di huni seratus ribuan orang, jadi jalanannya lengang setiap saat.

Rumahku Istanaku

Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam akhirnya gua sampai juga di rumah. Harapan gua ketika sampai rumah adalah akan ada pelukan hangat dari orang rumah dan mungkin sedikit air mata kebahagiaan, soalnya gua pulang tiga hari lebih awal dari tanggal yang gua beri tahu ke orang rumah–biar surprise gitu..–namun ibu gua cuma bilang “Eeeh udah pulang..?” ketika melihat gua muncul di depan pintu. Enggak ada yang nangis pula, ah kampret.. Atau jangan-jangan pada kesel ya gua pulang? Jangan-jangan ibu gua dalam hatinya ngomong “nih anak ngapain pulang sih? Udah bener-bener ga di rumah. Ngurangin jatah beras” Hahaha… Untung doi ibu gua, kalau bukan mah udah gua coret namanya dari KK. kok gua jadi ngelantur gini sih nulisnya? Haha semoga emak gua enggak baca tulisan ini, aku cuma bercanda bu! Aku sayang Ibu!

Seperti yang gua tulis di awal, kesibukan gua setibanya di rumah adalah bermain dengan adik gua yang paling kecil. Kegiatan lainnya yang gua lakukan adalah nongkrong, ketemu teman-teman di Jakarta. Ada satu perubahan dari diri gua yang terjadi ketika kembali ke Jakarta, gua jadi lebih sering naik transportasi umum seperti kereta dan Transjakarta, gua rasa ini terjadi karena gua masih belum siap naik kendaraan pribadi dan macet-macetan di Jakarta.

 Ada satu hal sama yang selalu ditanyakan teman atau saudara gua di Jakarta. Yang nantinya juga akan kalian dapati, kalau kalian ke Australia dengan visa berlibur dan bekerja. Pertanyaan itu adalah

“Terus sekarang mau ngapain Lal?”

“Bakal lama nggak di Jakarta?”

“Mau kerja lagi di Jakarta?”

“Kapan nikah?”

Dan jawaban gua selalu sama ketika dapet pertanyaan-pertanyaan itu, “belum tahu nih, yang jelas gua mau nyantai dulu” kata gua setiap kali ditanya. Kira-kira dua bulan gua berada di Jakarta, sampai akhirnya gua mulai yakin akan apa yang harus gua lakukan. Gua pun berkemas, menyiapkan sebuah ransel, tas punggung dan ukulele. Ke mana? Jawabnya ada di ujung langit. Kita ke sana dengan seorang anak. Anak yang tangkas. Dan juga pemberani..

Bye.

Gapapa tulisannya anti klimaks.


Seperti tulisan-tulisan bertemakan Australia lainnya di blog ini, kali ini beberapa teman juga memutuskan untuk menulis dengan tema yang sama. Mari nikmati tulisan mereka!

  • Bernadetta Virgi, 6 months and ongoing.
    • Walaupun masih berada di Australia menggunakan visa berlibur dan bekerja, Bernadetta sudah mempunyai rencana mengena apa yang akan dilakukannya. Cukup tidak mengikuti arus, di saat yang lain ingin mendapatkan visa tahun kedua, Bernadetta memiliki rencana lain. Good luck ya teh!!
  • Vania Stephanie Hosen, POST #AUSTRALIA365DAYS.
    • Setelah baca tulisannya, gua bisa berkesimpulan bahwa berkelana telah mengubah Vania. Perubahannya seperti apa? silakan dibaca tulisannya yak..!
  • Felita Moria, WHV Story: See You When I See You, Straya!
    • Di tulisan ini Felita merasa bahwa beradaptasi di negara sendiri lebih sulit dibandingkan beradaptasi ketika awal datang ke Australia. Menarik!!
  • Rhein Fathia, One Year Later
    • “Saya tidak berekspektasi bahwa kehidupan dalam setahun bisa sebegitu seru dan berwarna”.  ~ Rhein
  • Efi Yanuar, Setelah WHV Mau Apa?
    • Tak ada yang abadi, baik itu saat tinggal di Australia dengan visa berlibur dan bekerja maupun kegundahan setelahnya. Begitu kira-kira yang gua tangkap dari tulisan Efi.
  • Made Dwicahyana, Mooramana, Awal dan Akhir
    • Apa yang terjadi dengan Made, sangat mungkin lu alami jika nanti ke Australia.
  • Irene Tridiani, Every Ending Has A New Beginning
    • “Satu tahun hidup di Australia bikin saya banyak belajar. Belajar untuk berdiri di atas kaki sendiri.” ~ Irene
  • Tanza Miloen, Setahun Penuh Di Tanah Australia
    • Seperti teman-teman yang lain, perasaan bercampur juga menyelimuti bro Tanza ketika tiba di Indonesia. And he already knew what he’s going to do next! Awesome!

Comments

What do you think?

Hilal Abu Dzar

Social Media, Movie and Music enthusiast from Jakarta, Indonesia.

4 Comments

  1. Om tinggal didarwin pas whv? Saya sempet 2 tahun yang lalu exchange ke darwin tepatnya di ludmilla dekat casuarina mall, host fam saya disana , liat post om jadi kangen suasananya om, malam biasanya dihabisin di club buat nonton australian football , terus bangun jam 9 tiap pagi hehhee, saya lagi nabung buat ke darwin lagi om, ayo om next time coba kesana lagi hahaha, semoga sukses selalu!!

    • Hey man! panggil aja Hilal, jangan om. hahahaha
      Iya aku waktu itu di Darwin, wah kamu berapa lama dulu di sana?
      Aku dulu sempat di Palmerston dan di Darwin city. Kamu mau balik dengan visa apa?

      I would like to go there again mate!

Leave a Reply