“IIIHHH.. TEMPAT PIPISNYA KOK GITU SIH??” GEGAR BUDAYA (CULTURE SHOCK) DI AUSTRALIA

Culture shock atau gegar budaya kira-kira kalau diartikan adalah perasaan disorientasi oleh seseorang yang dihadapkan pada budaya, cara hidup atau sikap yang tidak biasa ditemui. Culture shock adalah hal yang akan lu rasakan ketika bepergian ke tempat baru, karena jelas di Bumi yang dihuni lebih dari tujuh milyar penduduk ini ada beragam budaya, cara hidup atau sikap dan ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut.

Gua pun merasakan culture shock ketika bepergian ke tempat-tempat baru, jangankan di Australia. Pergi ke daerah di luar Jakarta aja gua udah culture shock, contohnya ke Bandung atau Yogyakarta. kalau ngobrol sama teman di jakarta maka yang umum digunakan dalam percakapan adalah “lu/gua” nah kalau ke Bandung atau Yogya gua jadi canggung banget karena rata-rata ngobrolnya pakai “aku/kamu”, makin canggung lagi kalau yang ajak ngobrol cewek, BAPERLAH AKU INI JADINYA.

Nah kali ini gua mau cerita beberapa momen culture shock gua di Australia:

Memakan Makanan Dingin

Gua punya pertanyaan nih buat lu, menurut lu apa makanan yang paling enak dimakan selagi dingin? Apakah nasi goreng dan ayam goreng masuk kedalam jawaban lu? hahaha..

Awal Desember tahun lalu setelah selesai kerja di kebun mangga, gua sempat kerja di peternakan sapi selama satu minggu. Di sini gua kerja dengan satu orang Australia dan sang pemilik peternakan yang juga orang Australia. Selama kerja di sini gua dapat makan dari peternakan, nah gua ingat banget makan siang pertama kali kita makan nasi goreng dan ayam goreng. Betapa herannya gua ketika tahu kalau makanan itu dingin! namun karena lapar dan gua lihat mereka makan dengan lahapnya, ya gua ikutan makan. Nah, selesai makan gua tanya sama pemilik peternakan kira-kira beginilah dialog yang terjadi.

“Kenapa kok makanannya dingin?” tanya gua.

“Karena cuacanya panas, jadi lebih enak makan makanan dingin” jawab pemilik peternakan.

“ooh gitu. Wah kalau di Indonesia udah dibilang gila kita ini” respon gua terhadap jawaban pemilik peternakan yang logis juga sih sebenarnya bhahaha.

Memanggil orang hanya dengan namanya

Ini sebenarnya culture shock yang enak sih hahaha. Karena di Australia dalam mayoritas percakapan dengan orang lain cukup memanggil namanya saja, tidak peduli dia 100 tahun lebih tua dari lu ataupun orang itu pemimpin di tempat lu bekerja.

Self Service di mana-mana

Di Jakarta, kalau mau apa-apa mayoritas harus berinteraksi dengan orang lain. Contohnya seperti, proses transaksi di supermarket atau ketika lu beli bensin. Di Australia lu bisa melakukan proses transaksi sendiri di supermarket dan ketika isi bensin ga akan ada petugas yang bilang “dari nol ya” lha wong isi sendiri bensinnya.

Boleh menginjak rumput dan fasilitas barbeque gratis

Untuk lu yang tinggal di Jakarta dan pernah ke taman Suropati, pasti gak asing dengan tulisan ‘dilarang menginjak rumput’. Sebenarnya bingung juga sih gua sama sebagian taman di Jakarta, karena kami ingin tiduran di rumput pak! Kalau di Darwin, Australia. Lu boleh nginjak tuh rumput, tiduran ataupun piknik asal jangan buang air aja hehehe.

piknik di taman

Seandainya di Taman Suropati, Jakarta bisa seperti ini 🙁 dok: Farida Hasna Annuha

Daan enaknya lagi nih broo, lu bisa goreng-goreng gratis di taman! Cukup bawa bahan-bahan aja, tapi jangan lupa bersihin setelah makan yak!

barbie culture shock

cukup bawa bahan makanan dan peralatannya, kita bisa barbeque di taman. dok:Farida Hasna Annuha

Minum air keran 

Mayoritas air keran di Australia sudah di proses agar bisa diminum, kalau mau coba minum air keran di Indonesia tanggung sendiri akibatnya ya hehe.

 

Dalam menulis artikel ini gua juga bertanya ke beberapa orang Indonesia yang tinggal di Darwin mengenai culture shock yang mereka rasakan. Berikut adalah beberapa jawabannya:

Basa-basi basi (thanks to Corry Margareth)

Siapa di sini yang mengamini stereotip bahwa orang bule itu kalau ngomong ‘to the point’? Corry membantah itu, ada juga orang bule yang suka basa basi, kalau ketemu selalu nanya hal yang sama. Dan Corry  ngerasa sebenarnya mereka yang nanya tuh ya ngga peduli sama jawabannya. Sekadar basa-basi saja.

Toko-toko tutup lebih awal (thanks to Angel Athalia Celebes)

Sering nge-mall malam-malam nggak di Indonesia? Nah kalau di Darwin, kota yang berpenduduk seratus ribuan jiwa ini gak mungkin cuy! mayoritas toko di mall tutup sebelum jam 6 sore!

 Australian slang! (thanks to Rainy Oktavia)

Benar Australia mengunakan bahasa Inggris. Tapi sebagai orang Indonesia, percaya atau tidak kita mayoritas belajar american english . Dan Australia menggunakan australian english, jadi bisa dipastikan ada perbedaan antara keduanya. contohnya ada kata-kata yang disingkat dalam bahasa inggris australia seperti misalnya: arvo untuk afternoon, brekkie untuk breakfastmacca untuk McDonalds.

penutup

Nah ini nih culture shock yang benar-benar bikin gua kaget!

Kalau gua ke tempat umum di Jakarta seperti pusat perbelanjaan ataupun cafe. Urinoir atau tempat kencingnya itu rata-rata ada pembatasnya. Nah bagaimana di Australia? Buseeet, lau berasa kencing di tembok boss!!!! Kaga ada pembatasnya di kiri-kanan, jadi bisa saling lihat dan membandingkan! Pertama kali masuk ke toilet umum di Australia gua langsung bergumam “iiih kok tempat pipisnya gituuu”. Sebenarnya bukan apa-apa, takut ada yang minder aja ngeliat punya gua bhahaha…

Ini ilustrasi yang gua dapat dari website deadspin.com, yak persis seperti itulah.

tidak ada pembatasnya kann??

tidak ada pembatasnya kann?? sumber: whywait.com.au

 

 

Simak juga nih tulisan kece dari beberapa blogger lain tentang culture shock di Australia:

Comments

What do you think?

Hilal Abu Dzar

Social Media, Movie and Music enthusiast from Jakarta, Indonesia.

5 Comments

    • summfffaaah kaget bukan main gua pertama kali masuk WC haha. Terlalu gokil Win untuk gua haha

  1. Kereen pake bangeudh! Gue mau coba mbah (bolleh ya panggil mbah? Biar berasa murid gue). Share lagi dong pengalamannya hehe

Leave a Reply