Kenapa ke Australia Lal?

Berlibur dan Bekerja atau Work and holida visa australia

Perjalanan menuju Darwin, Australia

Tulisan kali ini spesial gua bikin untuk menjawab pertanyaan nomer satu yang ditanyakan orang ketika tahu gua akan ke Australia.

“Lu kenapa ke Australia?”

Dan gua akan menjawab pertanyaan itu dengan menceritakan salah satu fragmen dari kehidupan gua. Semua itu berawal di zaman kegelapan waktu muda gua…

Maha “zombie” Siswa

Kenapa gua bisa ada di Australia itu menurut gua adalah ‘efek kupu-kupu’ dari salah satu bagian hidup gua. Dan itu semua berawal ketika gua kuliah, tahun 2010 gua lulus SMK jurusan akuntansi dan (terpaksa) melanjutkan kuliah di akademi yang paling sering pasang iklan di Metro TV. Akademi yang gua maksud adalah Bina Sarana Informatika (BSI) di BSI gua mengambil jurusan komputerisasi akuntansi, kenapa gua bilang terpaksa? Karena awalnya gua ingin kuliah sastra inggris cuy. Tapi bokap nyaranin masuk BSI aja setelah lihat biaya pendidikan yang gua tunjukan dari beberapa kampus yang menjadi bidikan gua. Pada saat itu gua iya-iya aja nurutin kata bokap, gua masih terlalu culun sampai-sampai ga berani untuk meyakinkan beliau kalau gua maunya sastra inggris. Yauds, gua menjalankan kuliah tanpa beban sih sebenarnya. Walaupun passion gua tidak di pemrograman dan tidak di akuntansi. huhuhu 🙁

Eh waktu gua memutuskan untuk masuk SMK  jurusan akuntansi pun itu semata-mata karena kakak gua yang perempuan sekolah mengambil jurusan itu, jujur gua bingung waktu setelah lulus SMP mau masuk SMA/SMK. Jadi gua iya-iya aja pas disuruh masuk SMK dan ambil jurusan Akuntansi. Epic ya?

Nah makanya nih buat lu semua yang akan menjadi orang tua, nanti tolong izinkan dan dukung anak lu untuk menempuh pendidikan sesuai passion mereka.

Oke, balik lagi ke cerita tentang kehidupan perkuliahan gua. Kenapa bagian ini gua beri judul Maha “Zombie” Siswa? Karena dulu rutinitas gua ketika awal kuliah itu kaya zombie guys. Kombinasi kegiatan gua hanya terdiri dari:

  1. Belajar
  2. Pacaran
  3. Main game online

ya hanya tiga hal iulah variasi kegiatan gua dari semester satu sampai tiga, tidak terlalu produktif. Belajar hanya 2-5 jam dan itu tidak setiap hari, yang hampir setiap hari ya ketemu (mantan) pacar dan main game 5 jam. Sampai akhirnya ada hal-hal yang memberikan tamparan kehidupan bagi gua.

The Billionaire

The Billionaire adalah judul film asal Thailand yang dirilis tahun 2011, film ini diangkat dari kisah nyata Top Ittipat seorang pengusaha yang sukses di usia muda. Film ini menceritakan bagaimana Top bisa sukses dari yang awalnya hanya seorang anak SMA yang awalnya mencoba menghasilkan uang dengan bermain game online lalu mencoba berbisnis menjual makanan ringan rumput laut yang kita kenal dengan merek Tae Koi Noi.

sumber: imdb.com

sumber: imdb.com

Gua nonton film itu akhir sekitar akhir 2011. Dan film ini sukses bikin otak gua panas dan sadar kalau hidup gua tidak bisa gini-gini aja ternyata. Nah, dari saat itulah gua mulai menyibukan diri. Sebenarnya ada satu lagi selain film ini yang cukup membangkitkan semangat hidup gua. Hal itu adalah sebuah kutipan dari Buya Hamka yang berbunyi “Kalau hidup hanya sekadar hidup, kera di rimba juga hidup. Kalau kerja hanya sekedar kerja, kerbau di sawah juga bekerja“. Langsung mikir keras gua ketika baca kalimat itu untuk pertama kalinya, walaupun gua tidak yakin apakah kutipan tersebut benar berasal dari beliau. Karena gua menemukan beberapa versi yang berbeda ketika googling, tapi yang penting kutipan itu keren banget!

Hidup Tak Hanya Sekadar Hidup

Memasuki semester 4 gua memutuskan untuk magang di kampus tercinta sebagai asisten instruktur lab. komputer atau populernya disebut asisten dosen. Nah di sini hidup gua mulai berubah, pacarannya mah tetap hahaha. Tapi, gua pensiun dari dunia game online. Di semester 4 gua juga beruntung banget karena gua ketemu dosen yang menginspirasi dan membuka wawasan gua, beliau adalah dosen mata kuliah wirausaha gua yang bernama Fazhar Sumantri. Gua nobatkan beliau sebagai the quirkiest lecturer i’ve ever met, orang ini juga mengambil peran sampai akhirnya gua memutuskan untuk berangkat ke Australia. Nanti gua ceritakan peran ‘Sinto Gendeng’ ini di mana.

Anyway, ternyata kegiatan baru gua sebagai asisten dosen itu belum begitu menyita waktu. Akhirnya di sekitaran semester 5 gua memutuskan untuk gabung di komunitas-komunitas sosial luar kampus, nah di sini gua mulai merasa hidup tak hanya sekedar hidup. Gua merasa sudah berubah dari Zombie kembali menjadi Mahasiswa seutuhnya! Yaay!!

Perjalanan Yang Mengubah Semuanya

September 2013 gua lulus kuliah, sempat mencoba bisnis bersama beberapa teman namun akhirnya gagal. Awal Januari dapat tawaran kerja dari teman yang gua kenal di salah satu komunitas yang gua ikuti, teman gua ini memiliki perusahaan start up di bidang konsultan pemasaran digital, bertahan sampai akhir Februari 2014 dan gua memutuskan untuk pindah kerjaan. Ada teman lain yang nawarin kerjaan jadi Social Media Officer di konsultan komunikasi tempat dia bekerja. Di sini gua dikontrak selama 6 bulan, banyak ilmu yan gua dapatkan selama 6 bulan itu. Nah! singkat kata 6 bulan berlalu, kontrak gua habis dan tidak diperanjang. Gua memutuskan untuk bertualang selama sekitar 12 hari dengan rute tujuan Yogyakarta – Pulau Karimun Jawa – Bandung.

hilal abu dzar - jalan ke bandung

Perjalanan 12 hari itu gua tutup dengan datang ke festival musik di Bandung.

Dalam perjalanan 12 hari inilah muncul pikiran-pikiran untuk melakukan sesuatu di luar Jakarta. Well, lebih tepatnya di luar negeri!

Masih ingat di bagian sebelumnya gua menyebutkan tentang dosen gua yang bernama Fazhar Sumantri? Nah. Jadi, selepas semester 4 diajar beliau, gua masih berkontak bahkan hingga saat ini. Setelah gua pulang dari perjalanan 12 hari, kira-kira di pertengahan September 2014 gua mendatangi kelas beliau. Ikut belajar bagaikan mahasiswa hahaha. Dan setelahnya kita ngobrol-ngobrol, dalam obrolan inilah gua bilang kalau gua ingin kerja di luar negeri.

Gua bilang sama dia kalau gua jenuh di Jakarta (gaya banget ya gua? hahaha) dan sebentar lagi kan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan diberlakukan jadi gua bilang sama dia, gua yakin bisalah kerja di Asia tenggara. Salah satu respon dia yang masih gua ingat adalah, “Skor TOEFL kamu berapa?” mampus gue! sotoy mau keluar negeri tapi ga punya skor TOEFL! Lalu di situ dia juga bilang kalau ada yang beda dari gua, kualitas diri gua menurun katanya. Sampai akhirnya gua disarankan untuk pergi ke Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta. “Coba kamu main-main ke kampus saya dulu kuliah sana, kayaknya kamu perlu kuliah lagi deh”, kata Sinto Gendeng kepada gua. Perlu digaris bawahi, ini bukannya sombong atau apa ya haha. Tapi waktu semester 4 gua diajar pak Fazhar, dia pernah bilang kalau dia yakin gua bisa sukses tanpa kuliah lagi. Yaudah akhirnya gua ikutin saran dia untuk ke UGM, gua berangkat ke Yogya lagi. Belum sempat ke UGM tapi hati gua malah makin mantap kalau gua harus melakukan sesatu di luar negeri di tahun 2015!

Antara Kuliah, Kerja, atau Jadi Relawan.

November 2014, gua mulai melakukan riset. Melalui jalur apa sajakah gua bisa keluar negeri. Waktu itu hanya ada tiga pilihan yang gua temukan, antara mencari beasiswa, kerja di bidang media sosial, atau jadi relawan. Namun, ternyata gua menemukan kendala di tiga opsi di atas. Kalau beasiswa waktu itu gua mikirnya waktu persiapannya mepet dengan deadline yang diberikan pemberi beasiswa. Kalau kerja, pengalaman gua belum cukup. Nah, ada tuh pilihan menjadi relawan, tapi harus bayar. Akhirnya setelah gua browsing di internet lagi, ketemu lah gua dengan satu blog yang membahas visa berlibur dan bekerja atau yang dalam bahasa inggrisnya disebut Work and Holiday Visa yang dikeluarkan pemerintah Australia. Inilah jalur yang menurut gua paling memungkinkan untuk gua tempuh demi mencapai tujuan gua ke luar negeri di tahun 2015!

“Mah, Hilal mau ke Australia”

Sekitar akhir Desember, setelah gua mantap ingin ke luar negeri dengan jalur ini, gua memberanikan diri untuk bilang ke orang tua gua. Dengan respon yang dingin mereka mengiyakan keputusan gua. Guna meyakinkan mereka, gua mulai mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk mendapatkan visa ini. Seperti membuat paspor dan melakukan tes TOEFL ITP, gua tunjukan ke mereka hasilnya dan mereka mulai yakin bahwa anaknya tidak main-main hehe. Dan mereka pun setuju untuk menunjukan tabungan mereka sebagai salah satu persyaratan mendapatkan visa berlibur dan bekerja.

Singkat kata April 2015 gua diwawancara oleh pihak imigrasi Indonesia. Wawancara ini adalah salah satu syaratnya juga. Setelah wawancara gua dinyatakan sukses pada pertengahan Juni, gua langsung mengajukan permohonan visa ke kedutaan Australia. Pertengahan Juli 2015 Visa gua dikabulkan dan pada 6 September 2015 gua menginjakan kaki di Darwin, Australia!!!


Mumpung masih muda gua tidak mau hidup gua datar-datar saja.

Gua tidak mau hidup hanya sekedar hidup seperti kutipan Buya Hamka di awal artikel ini.

Australia bukanlah tujuan akhir gua, kepergian gua ke Australia adalah titik awal gua untuk mengejar mimpi-mimpi yang menurut gua tak melulu tentang gua (sayangnya gua belum bisa share sama kalian mimpi-mimpi ini).

Mari kita merenung sejenak,

sudah sebergelombang apa masa muda kita? Atau jangan-jangan kita malah terjebak dalam rutinitas yang tidak meningkatkan kualitas diri kita?

sudahkah cita-cita kita menjadi spesifik? Tak mengawang-ngawang seperti “gua bercita-cita menjadi orang sukses”, lha seperti apa suksesnya? Dalam bidang apa?

sudahkah kita memulai langkah-langkah untuk menggapai hal yang kita inginkan?

Masa muda hanya datang satu kali guys. Mari kita buat sebergelombang mungkin. Mari kita isi masa muda kita dengan berbagai warna!

Do what you love! It’s never too late to start!

Yang mau tahu bagaimana kehidupan satu bulan pertama gua di Australia silakan mampir ke sini yaa!!

“Jangan patah semangat walau apapun yang terjadi, jika kita menyerah, maka habislah sudah”~Top Ittipat.

Simak juga tulisan dua teman gua mengenai alasan mereka ke Australia:

  • Rijal Fahmi Mohamadi Kenapa Saya Memilih Work And Holiday ke Australia
    • Nah, kalo doi sebenarnya ngarepnya WHV ke Jepang biar bisa lihat ‘ikeh kimochi’  tiap hari*eh, AKB 48 tiap hari maksudnya hehe. Tapi sayangnya warga Indonesia tidak bisa WHV ke Jepang.
  • Efi Yanuar Merantau Ke Australia
    • Gokil ni si Efi, walaupun ibunya kurang suka dengan keputusannya untuk ke Australia, tapi doi tetap berangkat cuy!!
  • Hendra Fu Siapa Suruh Datang Australia? (Balada WHV part 1)
    • Hampir mirip sama si Fahmi nih orang. Tapi kalau Hendra awalnya ingin ke Prancis namun gagal. Simsalabim, semesta membawanya ke Australia!
  • Meidiana Kusuma Kenapa Pilih Tinggal 1 Tahun di Australia
    • Career break broo katanya yang jadi salah satu alasan doi ke Australia. Cocok ditiru nih barangkali ada yang jenuh sama rutinitas sehari-hari yang mulai mengubah lu menjadi Zombie!

Comments

What do you think?

Hilal Abu Dzar

Social Media, Movie and Music enthusiast from Jakarta, Indonesia.

12 Comments

  1. pengen banget kerja sambil liburan di luar negeri, tapi sayang umur sudah membatasi aku (yah semoga kapan kapan bisa berlibur ke Darwin

  2. Wiih gw juga nih liburan sambil kerja di… Jaaaakarta…

    Ntar klo ada ingpoh WHV ke Selandia Baru kabari yaa vroh..

    • Aasiik. Kerja apa bro di Jakarta? Anti mainstream banget nih tujuannya Jakarta hehe.

      Belom ada bocoran info whv di negara lain nih brow hhehehe

  3. Mas ini buat yg kuliah aja ya yg bs dpt visanya.. yg cuma sebatas SMA doank ga bs donk yah ?

    • Hallo Kirey, jujur aku belum tahu. Kalau boleh menyarankan, coba buka grup “WHV Indonesia” di Facebook deh :)\

      Semoga membantu

Leave a Reply